Selama beberapa tahun terakhir, Linux hanyalah sebagai kuda hitam buat siapa saja yang ingin mencari alternatif selain Microsoft. Entah beranjak dari kebosanan, keluhan sistem yang tidak stabil, harga yang terlalu mahal, atau idealisme, membuat Linux menjadi pilihan. Satu hal yang cukup jelas, Linux terjangkau oleh rata-rata kantong orang Indonesia, dan dapat diperoleh programnya yang lengkap tanpa dicap sebagai pengguna program bajakan. Satu contoh menarik bahwa sejak India menerapkan hukum yang ketat terhadap pembajakan perangkat lunak, dunia IT (Informasi Teknologi) di India berkembang pesat. Pelaku IT 'dipaksa' untuk mempelajari dan mengembangkan perangkat lunaknya sendiri. Hasilnya bisa dilihat bahwa India saat ini merupakan pemberi kontribusi yang cukup berarti dalam pengembangan IT dunia. Migrasi ke Linux User Friendliness atau kemudahan untuk dipergunakan oleh pengguna, adalah isu yang menarik dan sering muncul saat pengguna secara umum ingin bermigrasi dari Windows (atau sebagian diantaranya dari Macintosh) ke Linux. Keragu-raguan muncul bisa jadi karena absurditas dari istilah itu sendiri. Rekan saya yang bertahun-tahun menggunakan WS dan Lotus menjadi gagap saat memakai Word atau Excel. Dalam hati kecil ia beranggapan bahwa Word atau Excel lebih sulit, dan kurang user friendly.
Berkaitan dengan user friendliness, banyak pengguna komputer mengalami kesulitan pada saat instalasi pertama kali. Kehilangan data, atau perangkat keras yang tidak dikenali sering kali membuat pengguna baru menjadi surut. Selanjutnya, saat instalasi berjalan mulus, pengguna dihadapkan pada prompt dengan perintah-perintah asing untuk dapat membuatnya bekerja. Realita (atau mitos) semacam ini tampaknya disadari sepenuhnya oleh para pengembang Linux. Beberapa distribusi terakhir telah mempergunakan modus grafik dalam instalasinya, dan pengenalan perangkat keras yang terus membaik dari versi ke versi. Untuk pengguna UNIX, tentu Linux bukanlah barang baru. Perintah-perintah yang ada di dalamnya sama dengan apa yang mereka pergunakan sehari-hari. Program-program yang berjalan di dalamnya juga relatif sama, membuat kelompok pengguna ini tidak terlalu terpengaruh dengan isu user friendliness. Perbedaannya dengan UNIX, adalah bahwa Linux dapat diperoleh secara gratis.
Saat buku ini ditulis, literatur tentang Linux berbahasa Indonesia masih jarang ditemukan. Dalam mengisi kekosongan, penulis mencoba menyajikan semacam manual yang berisi langkah-langkah praktis. Penyusunan dilakukan sesistematis mungkin berdasarkan pengalaman mendesain beberapa jaringan berskala kecil. Bahasan yang ada bukanlah kajian mendalam tentang sistem, tapi merupakan metode langkah demi langkah bagaimana membuat sistem berjalan, diikuti dengan penjelasan singkat apa yang dilakukan oleh program pada saat dijalankan. Dengan mengikuti apa yang tersaji dalam buku ini, Linux sudah bisa dijalankan sebagai server internet atau intranet yang relatif tangguh.
Mengingat banyaknya distribusi yang ada di Linux, buku ini terfokus pada beberapa distribusi yang banyak digunakan di Indonesia. Distribusi tersebut adalah Slackware, RedHat, dan SuSE. Versi yang dipakai sebagai contoh merupakan versi akhir saat buku ini ditulis :